Menjelang kelulusan SMA aku mulai galau. Bukan soal mau melanjutkan ke perguruan tinggi mana tetapi karena di usia itu sudah terlintas kelak aku menikah dengan siapa. Gelap. Aku tak memiliki pacar seperti sebagian teman yang mulai tergambar nanti mereka akan menikah, pikirku.

Untungnya, pikiran itu tak lama menghantui jiwa. Kesibukan ujian sekolah, kemudian ujian masuk perguruan tinggi dan akhirnya memasuki dunia kampus membuat pikiran itu terkubur.

Di kampus, aku mulai mengenal Islam lebih dalam. Melalui lembaga dakwah kampus, aku belajar Islam. Aku tertarbiyah. Islam yang sebelumnya kudapatkan sebagai sebuah pelajaran sekolah, kini seperti merasuk dalam otak dan darah. Aku merasakan indahnya Islam dan indahnya ukhuwah islamiyah. Bukan sekedar teori tetapi ada ghirah dan rasa memiliki. Tumbuh militansi untuk mengamalkan dan memperjuangkan Islam.

Beberapa tahun bersama tarbiyah membuat hidupku berubah. Dan tibalah saat itu. Aku menikah. Tarbiyah bukan hanya menghadirkan ukhuwah tetapi juga memfasilitasiku mendapatkan belahan jiwa. Aku tak perlu repot-repot mencarinya.

Kini telah sekian tahun aku berkeluarga. Setiap pulang dari tempat kerja, ia menyambutku dengan senyum indahnya. Segala puji bagi Allah yang menganugerahkan kebahagiaan dan kedamaian dalam rumah tangga kami. Bukan hanya dia yang menenangkan hati tetapi juga anak-anak buah hati kami. Lelahnya beraktifitas di luar rumah menjadi terobati saat bertemu mereka.

Ketika malam hendak berganti fajar, hampir selalu ia membangunkanku. Ia jauh lebih rajin dariku soal qiyamul lail. Bersamanya, aku bisa menengadahkan tangan dalam keheningan malam.

Ketika semangatku melemah, ialah yang menjadi penyemangat. Memberikan motivasi dan menguatkan. Menyadarkan bahwa ada misi besar peradaban. Dan ada akhirat yang tak berkesudahan.

Aku sangat beruntung. Dipertemukan dengannya; bidadari dunia. Syukurku lebih membuncah ketika melihat kehidupan di luar sana. Teman-teman yang dulu aku sempat iri karena mereka pacaran, ternyata rumah tangganya tak sedikit yang berantakan. Banyak memang yang masih bertahan, tetapi diwarnai dengan pertengkaran karena si istri dekat dengan pria lain, si istri keluar malam, dan sejumlah kasus lainnya. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana konsentrasi para suami bisa terjaga jika mereka disibukkan dengan tingkah istri yang mengganggu jiwa.

Bagaimana denganmu, Saudaraku? Sudah dipertemukan Allah dengan bidadari dunia? Semoga. [Ibnu K/Tarbiyah]

*seperti diceritakan seorang ikhwan




Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar