Secara etimologi, tarbiyah berasal dari tiga akar kata: rabiya – yarba, rabaa – yarbu, dan rabba – yarubu. Rabiya – yarba artinya tumbuh. Rabaa – yarbu memiliki makna bertambah dan berkembang. Dan rabba-yarubbu bermakna memperbaiki, mengurusi, mengatur, menjaga dan memperhatikan.

Tumbuh

Tarbiyah artinya menumbuhkan. Tarbiyah adalah proses menumbuhkan keimanan, menumbuhkan ketaqwaan, menumbuhkan karakter-karakter positif dalam jiwa seorang muslim.

Melalui tarbiyah, seorang muslim didekatkan dengan Al-Qur’an; ia membacanya, ia mentadabburinya, ia menghafalnya, ia berusaha mengaplikasikan kandungan-kandungan ayatnya. Jadilah ia lebih beriman. Jadilah ketaqwaannya tumbuh. Jadilah akhlak mulia menghiasi perangainya.

Saat pertama kali Umar bin Khatab berinteraksi dengan Al Qur’an, imannya langsung tumbuh. Itulah saat ia baru saja menghajar Fatimah adiknya, lalu membaca surat Thaha yang saat itu dipelajari dalam halaqah kecil di rumah itu. Hari-hari berikutnya, Umar bin Khatab ditarbiyah langsung oleh Rasulullah. Ia yang dulunya keras dan tempramen, menjadi sering menangis saat membaca Al Qur’an. Ia yang dulunya suka mabuk, kemudian berhenti total. Ia yang dulunya menentang dakwah, kemudian menjadi tulang punggungnya. Sejak hadirnya Umar di barisan dakwah, umat Islam berani tampil terang-terangan; dimulai dari thawaf terbuka mengelilingi ka’bah bersama-sama.

Berkembang

Tarbiyah yang memiliki makna dasar berkembang, sesungguhnya adalah proses pembinaan yang membuat kapasitas dan kompetensi kita berkembang. Wawasan dan paradigma kita juga berkembang.

Dalam tarbiyah, ada taklim, ada mutaba’ah, ada motivasi. Ketiganya ini membuat mutarabbi berkembang.

Bilal bin Rabah, tadinya adalah seorang yang lemah. Statusnya sebagai budak membuatnya minder. Potensinya tidak berkembang. Begitu ia tersentuh tarbiyah Rasulullah, bergabung dalam kutlah di rumah Arqam bin Abi Arqam, potensinya berkembang. Melejit. Ia menjadi orang yang percaya diri, pemberani, dan petarung sejati. Saat perang Badar, Bilal membunuh Umayyah bin Khalaf, mantan majikan yang dulu selalu menghinanya.

Di masa kini, hal serupa juga terjadi. Orang yang dulunya tidak suka membaca Al Qur’an, kini menjadi orang yang sangat akrab dengannya. Orang yang dulunya minder berubah menjadi percaya diri. Orang yang dulunya tidak berani bicara di depan umum, berubah menjadi singa podium. Itulah tarbiyah yang kita pahami. Hadza min fadli Rabbi.

Lebih baik

Makna tarbiyah ketiga adalah memperbaiki. Maka aktif dalam tarbiyah membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Hidupnya tarbiyah secara massif di tengah-tengah umat membuat umat menjadi lebih baik.

Meskipun jumlah umat Islam sangat banyak, umat Islam bisa menjadi santapan orang-orang kafir saat terhinggapi penyakit wahn; cinta dunia dan takut mati. Dua penyakit itulah yang hendak diobati dengan tarbiyah yang sarat tazkiyah.
Evaluasi

Kita yang sudah mengikuti proses tarbiyah selama bertahun-tahun patut bertanya dan melakukan introspeksi; sudahkah kita bertumbuh, berkembang dan menjadi pribadi yang lebih baik? Kita mulai dari hal-hal yang sederhana, yang indikatornya amat mudah kita evaluasi.

Sudahkah tilawah kita lebih baik, lebih dekat kepada tajwid? Sudahkah kita lebih menyukai dan lebih rajin membaca ayat-ayatNya dalam kitab suci itu?

Ketaatan dan ketaqwaan kita… sudahkah ia bertumbuh atau justru terus jatuh? Sudahkah hati kita tertata lebih baik, atau kita masih mengedepankan nafsu dan hawa hingga kita merasa hidup kita jauh dariNya? Sudahkah potensi kita berkembang dan terdistribusikan untuk kebaikan umat Islam? Masih banyak pertanyaan bisa Anda teruskan. [Muchlisin BK/Tarbiyah.net]




Share To:
Next
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar