“Bagaimana Tuan, Tuan suka dengan suguhan agama model begini?”
Tidak. Ulama tidak akan bicara seperti itu kepada penguasa. Ulama tidak akan menjilat penguasa. Kalaupun ada ulama yang berbuat demikian, mungkin ia sedang sakit atau sebenarnya ia bukan ulama.

Ulama tahu kedudukan dirinya yang mulia, sebab ia adalah waratsatul anbiya’; pewaris para nabi. Dia yang tahu hakikat agama ini. Dia yang tahu halal dan haram. Ia yang paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ulama adalah pewaris para nabi. Ia tahu persis tidak pernah ada Nabi yang menjilat penguasa. Yang sering terjadi, para Nabi berhadapan dengan para penguasa yang zalim. Para Nabi melawan hegemoni kekuasaan demi tegaknya tauhid, meskipun bahaya dan ancaman menjadi konsekuensinya. Ibrahim berhadapan dengan Namrud yang zalim, hingga ia ditangkap dan dilemparkan ke dalam api yang berkobar-kobar. Ibrahim tidak pernah gentar. Dan mukjizat dari Allah menyelamatkan dirinya.




Musa berhadapan dengan Fir’aun. Ia diancam akan dibunuh dan pengikutnya dibumihanguskan. Musa dan pengikutnya lari, dikejar-kejar hingga di tepi laut merah. Tapi Musa tak pernah menyerah. Lalu mukjizat Allah menyelematkan mereka; laut merah terbelah. Lalu Fir’an dan pasukannya tenggelam, tinggal sejarah.

Pun Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Penutup para Nabi ini pernah ditawari harta, wanita, dan tahta oleh pemuka kafir Quraisy, tapi ditolaknya mentah-mentah. Allah juga menurunkan “lakum dinukum waliyadin” saat mereka menawarkan kerja sama dalam ibadah. Rasulullah lebih memilih berhadapan dengan mereka demi dakwah. Dalam rangka li I’la likalimatillah.

Ulama yang tahu hakikat agama ini. Bahwa siapapun orangnya, apapun jabatannya, mereka semua sama di hadapan Allah. Yang membedakan adalah ketaqwaannya. Karenanya tidak mungkin bagi ulama merendahkan dirinya di hadapan penguasa, apalagi jika penguasa itu tidak memahami agama.

Ulama yang tahu halal dan haram. Sedangkan penguasa, mayoritas mereka tidak mengetahuinya. Karenanya tidak mungkin bagi ulama menyerahkan keputusan agama kepada penguasa. Bahkan dalam masalah fikih yang berisi perbedaan pendapat sekalipun, ulama tidak akan menjilat penguasa. Tidak mungkin ulama mengambil pendekatan ABS (Asal Bapak Senang) dalam masalah agama.

Imam Malik telah memberi contoh kepada para ulama setelahnya. Ja’far Al Mansur, Al Mahdi dan Harun Ar Rasyid pernah meminta Imam Malik menjadikan Al Muwatha’ sebagai kitab resmi negara di masa pemerintahan mereka. Namun, Imam Malik menolak permintaan tiga khalifah itu. Imam Malik tidak mau mengikuti penguasa memaksakan satu mazhab sementara dalam masalah fiqih, sahabat dan tabi’in pun ada kalanya berbeda pendapat.

Imam Malik juga pernah dicambuk penguasa lantaran keteguhannya memegang agama dan tidak mau mengikuti pandangan Ja’far bin Sulaiman, gubernur Madinah.

Ulama yang paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan mereka tidak takut kepada selain-Nya, termasuk kepada para penguasa. Karenanya kita jumpai, sejarah ulama hampir selalu disertai dengan tekanan penguasa. Imam Ahmad pernah dipenjara karena menolak mengatakan Al Qur’an adalah makhluk. Imam Malik pernah dihukum cambuk. Ibnu Taimiyah juga pernah dipenjara. Bahkan Hasan Al Banna ditembak dan Sayyid Qutb digantung. Mereka memilih mati daripada menjilat penguasa. Sebab setiap ulama itu memiliki cita-cita al mautu fi sabilillah asma amanina. [Muchlisin BK/Tarbiyah.net]




Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar