M. Yaser Arafat qiraah langgam Jawa
Qira’ah dengan langgam Jawa saat peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara baru-baru ini mendapat sorotan dari banyak ulama. Salah satunya, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) Tengku Zulkarnaen.

Menurutnya, Qira’ah di depan presiden Jokowi yang disiarkan TVRI tersebut telah mempermalukan Indonesia di kancah Internasional. Tengku mendapati banyak kesalahan dalam qiraah langgam Jawa tersebut baik dari aspek tajwid, kefasihan maupun lagunya.




Ia menilai qira’ah dengan langgam Jawa adalah hal yang konyol. Sebab Allah sendiri menjelaskan bahwa Alquran diturunkan dengan bahasa Arab asli.

Jika membaca Al Qur’an dengan langgam Jawa dibiarkan, ia khawatir nanti ada langgam Cina, Batak, Sunda dan lainnya. "Hal itu tentu akan merusak keindahan Al Quran sendiri,” terangnya.

Mengetahui derasnya kritik atas Qira’ah langgam Jawa di Istana, Menteri Agama Lukman Syaifuddin memberikan klarifikasi bahwa hal itu adalah idenya. Bukan keinginan Presiden Jokowi.

“Pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa pada Peringatan Isra Mi'raj di Istana Negara sepenuhnya ide saya, sama sekali bukan kehendak Presiden RI,” tulisnya di akun Twitter resminya @lukmansaifuddin.

Ia menambahkan, tujuan qiraah dengan langgam Jawa tersebut adalah menjaga tradisi nusantara.

“Tujuan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di tanah air,” lanjutnya. [Ibnu K/Tarbiyah.net]






Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar