Ayah dan ibuku bersitegang. Beberapa minggu ini makin nggak mesra. Dan puncaknya adalah kemarin malam. Ibuku mengundang seorang ustadz yang juga dikenal baik oleh ayah.

Mereka sebenarnya sudah mulai ikut taklim beberapa bulan terakhir. Tapi mungkin ada masalah yang cukup lama antara keduanya sebelumnya dan semakin menjadi belakangan ini. Yang aku tahu ketika ayah lebih pendiam dan ibu mulai uring-uringan.

“Kayaknya nggak ada solusi lain Ustadz, saya minta cerai,” kata-kata ibu membuatku sangat takut. Kamarku tidak terlalu jauh dari ruang tamu. Sedikit keras saja volume suara ibu, aku bisa mendengarnya. Rupanya hasil diksusi mereka mentok.




“Tapi kenapa ibu bersikeras meminta cerai?” tanya sang ustadz berusaha mendinginkan suasana.

“Sebab suami saya ini nggak mau bilang cinta,” upps. Sang ustadz terdiam. Mungkin ia menganggap lucu ya jawaban ibuku.

“Aku memang nggak bisa Ma. Aku akui aku bukan laki-laki romantis” ayah akhirnya bicara. “Apakah aku kerja nyari nafkah belum cukup? Harus tetap bilang cinta?”

“Tapi buktinya Papa bisa bilang cinta ke wanita lain. Itu SMS di HPnya Papa,” sergah ibu. Tangisnya pecah.

***

Kisah ‘upaya perceraian’ yang terjadi di atas hendaknya menjadi pelajaran kita semua. Tidak jarang perceraian muncul karena masalah yang tidak dikomunikasikan dengan baik. Atau, karena hadirnya pihak ketiga dalam rumah tangga.

Kisah di atas masih belum usai. Masih diusahakan oleh sang ustadz untuk diketahui akar permasalahan yang sebenarnya dan kemudian dicarikan solusinya. Tapi jika benar yang dikatakan istri bahwa sang suami tidak mau mengucapkan cinta kepadanya namun malah menulis kata cinta kepada wanita lain melalui SMS, sungguh merupakan pengkhianatan cinta dari seorang suami.

Memang ada laki-laki yang tidak bisa atau sulit mengucapkan cinta kepada istrinya. Tapi itu bisa dilatih. Sebab bagaimanapun juga, wanita membutuhkan kata-kata sebagai penegas cinta. Dan itulah yang diajarkan Rasulullah dalam keluarganya. Beliau biasa menyapa “ya Humaira”, biasa menggunakan kata-kata mesra untuk istrinya. Beliau tidak pelit untuk menyatakan cinta kepada istri.

Sedangkan interaksi dengan wanita lain harus dijaga sebaik-baiknya. Jangan sampai terjerumus dalam hubungan terlarang. Jaga pandangan agar panah syetan tidak menancap di dada dan melahirkan suka yang kemudian berkembang menjadi cinta terlarang. Jaga kata-kata agar tidak berubah menjadi rayuan. Jaga hati agar tak timbul ketertarikan. Kalaupun suatu saat karena bertemu wanita lalu terbersit keinginan, Rasulullah mengajarkan: “segera pulang temui istrimu dan tunaikan hajatmu.”

Jadi urusan cinta, hasrat dan yang berikutnya hanya untuk istri. Tak boleh ada pintu bagi wanita lain. Jika sampai tak terkontrol, bisa terjadi seperti kata istri tadi: bilang cinta ke wanita lain. Bahaya!

Dan bagi semua orangtua, baik istri maupun suami, cobalah membayangkan anak-anak kita. Kita sampai orangtua bertengkar, bagaimana perasaan mereka? Apalagi jika sampai bercerai? Bagaimana perasaan mereka? Bagaimana masa depan mereka? Pikirkanlah.

Dan mintalah kepada Allah Azza wa Jalla agar keluarga kita senantiasa dilindungiNya. Agar hati kita senantiasa dijagaNya, sehingga suami istri tetap bersama dalam cinta. Istiqamah mengarungi bahtera rumah tangga menuju surgaNya. [Muchlisin BK/Tarbiyah]

*Based on true story




Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar