Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Ahad (19/7/2015), mengatakan bahwa penyerangan jamaah shalat Idul Fitri dan pembakaran masjid di Tolikara, Papua, bukan karena permasalahan speaker. Hal itu sekaligus meralat pernyataan sebelumnya yang telah diprotes oleh sejumlah ulama dan tokoh masyarakat.

Menurut JK, di Tolikara memang terdapat peraturan daerah (Perda) tentang penggunaan speaker di rumah atau di tempat ibadah. Namun umat Islam di Tolikara sudah mendapat ijin dari pemerintah daerah dan aparat kemananan untuk menggunakan speaker selama Shalat Idul Fitri.




Namun, lanjut JK, karena ada acara di Gereja dalam waktu bersamaan, jemaat gereja meminta agar pemerintah daerah menegakan Perda tersebut dan melarang umat Islam menggunakan speaker meski saat salat Idul Fitri.

"Jadi mereka menggunakan alasan speaker, tapi berkembang seperti itu," kata JK seperti dikutip Republika.

Sebelumnya, JK berkomentar terkait akar masalah pembakaran masjid dikarenakan penggunaan speaker yang dinilai menganggu umat beragama lainnya. Namun, komentar itu diprotes oleh sejumlah ulama dan tokoh masyarakat.

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnain adalah salah seorang ulama yang menolak pernyataan JK tersebut. Ia heran mengapa JK dengan mudah menyalahkan speaker sebagai biang keladi penyerangan massa GIDI atas jamaah shalat Idul Fitri.

“Kasus Torikara karena speaker? Bagaimana mau khutbah di lapangan tanpa speaker? Jadi boleh bakar masjid hanya karena speaker? Komentar ngawur....!" tegasnya melalui Twitter.

Ustadz Yusuf Mansur juga mempertanyakan komentar JK yang menyalahkan speaker tersebut. [Siyasa/Tarbiyah.net]




Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar