Muslimah ini hanya bisa pasrah saat gerombolan teroris menyerbu dan membakar rumahnya. Itulah rumah pertama yang dibakar saat Idul Fitri, Jum’at (17/7/2015), sebelum puluhan rumah lainnya.

Mastikatun, nama muslimah ini. Ia tinggal di Tolikara sejak tahun 1996, mengikuti jejak suaminya, Sarno, yang lebih dulu pergi ke sana pada tahun 1990.




Sarno adalah seorang staf TU di SMP Negeri Karubaga, Tolikara. Untuk membantu suaminya, Mastikatun berdagang. Ia memiliki kios yang menjual barang kelontong, bahan bangunan, pakaian, perabot dapur dan alat-alat motor.

Saat gerombolan teroris menyerang jamaah shalat Idul Fitri, Mastikatun tidak mengetahuinya secara langsung. Sebab saat itu ia tidak mengikuti shalat Idul Fitri karena berhalangan. Namun, ia tahu saat rumahnya menjadi korban pertama pembakaran.

Bisa dibayangkan bagaimana panik bercampur takut dan kalut saat seorang wanita mengetahui rumahnya dibakar. Sebelum rumahnya habis terbakar, ia sempat mengamankan dokumen-dokumen penting dan sejumlah uang tunai sekitar 20 juta.

Namun seluruh aset-aset penting tak bisa diselamatkan.

“Semua barang dan rumah saya habis, kerugian saya bisa mencapai 4,5 milyar” ungkap Mastikatun seperti dikutip Hidayatullah.

Seperti ditulis dalam surat resmi pengurus Masjid Baitul Muttaqin, kerusuhan di Karubaga Kabupaten Tolikara pada tanggal 17 Juli 2015 menyebabkan bangunan Masjid Baitul Muttaqin Karubaga habis terbakar berikut bersama dengan segala isinya. Selain itu, bangunan tempat tinggal dan bangunan tempat usaha di dekatnya juga terbakar sehingga banyak muslim yang kini menjadi pengungsi dan secara spontan jatuh miskin. (baca: Ini Surat Resmi Pengurus Masjid Baitul Muttaqin yang Dibakar)

[Siyasa/Tarbiyah.net]

Keterangan foto:
Mastikatun (Hidayatullah.com)




Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar