Bara’ah. Menjadi penghafal Qur’an di usia 10 tahun adalah hal yang luar biasa. Yang lebih luar biasa lagi, ia berjuang melawan kanker osteosarcoma setelah kehilangan kedua orangtuanya. Mungkin itu yang menjadikan tilawahnya lebih menyentuh dan mengharukan.

Dalam video berdurasi empat menit ini, tampak seorang Syaikh menangis tersedu-sedu menyimak tilawah Bara’ah. Apakah Anda juga menangis dibuatnya?

Keluarga Bara’ah Abu Lail berasal dari Mesir. Mereka pindah ke Arab Saudi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Di antara kebaikan itu, Bara’ah bisa menghafal Qur’an sejak dini. Namun, ujian Allah begitu berat. Sebanding dengan keimanan dan kualitas seseorang.

Ibu Bara’ah menderita kanker adenocarcinoma sehingga harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Suaminya sibuk merawatnya, mengurusi pengobatannya. Suatu hari, dokter mengabarkan kondisi ibunda Bara’ah kritis. Sang ayah bersama Bara’ah datang ke rumah sakit. Karena khawatir Bara’ah tidak kuat melihat kondisi ibunya, ia diminta sang ayah menunggu di mobil.

Ketika sang ayah keluar rumah sakit, ia tampak gontai. Rupanya dokter memberitahukan bahwa ibunda Bara’ah sudah tidak memiliki harapan hidup lebih lama. Dalam kondisi tidak konsentrasi seperti itu, ayah Bara’ah tertabrak mobil sebelum sampai di mobilnya. Ia meninggal seketika di depan Bara’ah. Lima hari setelah itu, sang ibunda meninggal dunia. Jadilah Bara’ah yatim piatu. Kisah lebih lengkap tentang Bara’ah bisa diibaca di Kisahikmah.






Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar