Sikap Wakil Presiden Jusuf Kalla yang tidak mengangkat tangan menghormat bendera merah putih saat upacara 17 Agustus tadi pagi menjadi perbincangan ramai di media sosial. Sebagian netizen bahkan menyalahkan dan membully JK.

Apakah sikap JK salah secara aturan upacara bendera? Ternyata sikap JK itu bukanlah sikap yang keliru. Dalam PP No 50/1948 tentang Bendera Kebangsaan RI disebutkan tata cara penghormatan bendera yang kemudian dijalankan oleh JK sejak menjadi Wakil Presiden mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).




“Pada waktu upacara penaikan atau penurunan Bendera Kebangsaan, maka semua orang yang hadir memberi hormat dengan berdiri tegak, berdiam diri, sambil menghadapkan muka kepada bendera sampai upacara selesai. Mereka yang berpakaian seragam dari sesuatu organisasi memberi hormat menurut cara yang telah ditentukan oleh organisasinya itu. Mereka yang tidak berpakaian seragam, memberi hormat dengan meluruskan lengan ke bawah dan meletakkan tapak tangan dengan jari-jari rapat pada paha, sedang semua jenis penutup kepala harus dibuka, kecuali kopiah, ikat kepala, sorban, dan kudung atau topi wanita yang dipakai menurut agama atau adat istiadat,” demikian bunyi pasal 20 poin A seperti dikutip blog setia1heri.

Sikap penghormatan yang sama juga dilakukan oleh Bung Hatta saat menjadi Wakil Presiden, dengan cukup berdiri dan meluruskan lengan ke bawah.

Belajar dari kasus ini, seorang muslim hendaknya menahan diri dari sikap terburu-buru menilai, nyinyir atau menyalahkan. Terlebih, jika penilaiannya salah, ia akan dituduh memfitnah dan sejenisnya. Dan agaknya, hal itu sudah terjadi pada kasus ini. [Siyasa/Tarbiyah.net]




Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar