Habib Umar bin Muhsin Alattas hampir saja menjadi korban penipuan. Tidak tanggung-tanggung, orang yang akan menipunya mentarget angka Rp 500 juta.
Bagaimana prosesnya? Berikut ini detilnya seperti ditulis Abrar Rifai melalui akun Facebook pribadinya:

Pagi tadi selepas shalat subuh, saya dapati ada 7 panggilan tak terjawab dari pengasuh pesantren, Habib Umar bin Muhsin Alattas. Termasuk juga ada panggilan tak terjawab dari kantor da beberapa nomer lainnya. Saya lihat waktunya, jam sebelas-an. Ini kalau bukan karena urusan penting, gak mungkin beliau mencari saya malam-malam.

Saya pun bergegas menemui beliau. Sesampainya di nDalem, saya masuk, mencium tangan beliau dan mengalirlah cerita perihal apa yang terjadi.




Ceritanya malam tadi beliau ditelpon seorang wali santri, sebut saja namanya Pak Khayal. Ini Pak Khayal malam-malam telpon orang, ngaku mau ngasih duit dua milyar. Karena yang ngomong adalah orang yang sebelumnya sudah dikenal baik dan anaknya juga mondok di tempat kami, Habib Umar pun percaya saja.

Pak Khayal meminta Habib Umar datang ke Bandung pagi ini, jam 8. Suruh langsung berangkat tadi malam. Ada-ada saja! Pesawat jam segitu sudah gak ada. Baik ke Bandung atau pun ke Jakarta. Kalau pun bawa mobil, memang mau lari berapa mobilnya? Lagian mobil ini harus manusia yang nyetir, bukan malaikat. Kesimpulannya gak mungkin!

Akhirnya setelah dinego, dipersilakan berangkat pagi ini naik pesawat. Sampai sana tidak tepat jam 8, gak apa-apa. Kemudian Habib Umar pun booking tiket online. Setelah tiket selesai dipesan, Pak Khayal telpon lagi, memberi tahu bahwa 500 juta dari 2 milyar akan dipotong untuk jasa penghubungnya. “Gak apa-apa, silakan saja,” jawab Habib Umar.

Ok, semua sepakat. Habib Umar berangkat pagi ini. Tiket sudah dipesan. Dana dipotong 500 juta sebagai uang jasa penghubung. Namun tak lama kemudian Pak Khayal telpon lagi. Uang 500 juta tidak bisa dipotong dari uang bantuannya, tapi Habib Umar harus menyediakan dulu uang jasa tersebut baru dana bantuannya bisa diambil. Nah!

“Saya gak punya uang sebanyak itu,” kata Habib Umar.
“Gak apa-apa Beb, kalau gak ada 500 juta, 350 juta aja gak apa-apa,” Pak Khayal memberi diskon
“350 juta saya pun tidak punya.”
“Ya dicarikan, Beb. Pinjam atau hutang dulu kemana gitu.”
“Wah, gak bisa. Mau hutang kemana uang sebanyak itu.”
“Mmmm... Iya sudah Beb, kalau begitu nanti saya sampaikan ke Bapak Bupati....”

Telpon ditutup dan sampai sekarang Pak Khayal gak telpon lagi. Setelah mendengar penuturan Habib Umar, saya pastikan bahwa ini penipuan. Namun, sebelum Habib Umar cerita ke saya, tapi malam pun beliau sudah menyimpulkan bahwa beliau hampir saja ditipu.

Sodara, ternyata para penipu sekarang berkeliaran banyak sekali di sekitar kita. Mulai dari puing kebakaran hutan di Sumatera, di kantor, di sekolah, di masjid dan mungkin juga di rumah kita. Atau mungkin juga yang namanya sekarang bersemayam di hati kita.

Ini Pak Khayal, bayangkan saja, dia wali santri kami, sampai tega-teganya mau menipu pengasuh pondok di mana anaknya sedang menuntut ilmu.

Sungguh para penipu sekarang tidak pandang bulu, mulai presiden menipu rakyatnya. Pedagang menipu pembelinya. Anak menipu orang tua atau sebaliknya. Suami menipu istri atau sebaliknya. Murid menipu guru atau sebaliknya. Dan yang paling banyak terjadi nih, pacar menipu pacarnya.








Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar