Tarbiyah.net - Wong cilik sering berhadapan dengan kepedihan di negeri ini. Itulah yang dialami oleh Muhammad Kusrin bin Amri.

Sedianya, izin SNI untuk TV rakitannya keluar bulan ini. Namun, ia telah digerebek dan ratusan unit televisi rakitannya telah dimusnahkan oleh kejaksaan.

"Orang kecil seperti kami ini mencari rezeki serba sulit di Indonesia ini. Bahkan ada yang bilang ke saya, ‘Pak kalau punya uang banyak hidup di Australia saja, di sana bebas berkarya’,” kata Kusrin, Selasa (12/1/2016), seperti dikutip Serambiminang.




Sepuluh bulan lalu, polisi menggerebek tempat usaha Kusrin dan menyita ratusan televisi rakitannya. Kusrin dianggap menyalahi pasal 120 (1) jo pasal 53 (1) huruf b UU RI no 3/2014 tentang Perindustrian serta Permendagri No 17/M-IND/PER/2012 , Perubahan Permendagri No 84/M-IND/PER/8/2010 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Terhadap Tiga Industri Elektronika Secara Wajib.

Ratusan televisi sitaan itu kemudian dimusnahkan Kejaksaan Negeri Karanganyar pada Senin 11 Januari 2016. Petugas membakar hasil jerih payah Kusrin.

Kusrin menuturkan, orang kecil seperti dirinya, tak mudah mendapatkan izin produksi sesuai standar nasional Indonesia (SNI). Sebab ia mengaku tak tahu menahu soal undang-undang.

"Saya ini lulusan SD. Merakit TV dari otodidak. Kendati begitu saya tetap berusaha mencari informasi mengenai legalitas membuat sebuah produk televisi sejak tahun 2011," ujarnya.

Kusrin mengatakan telah melakukan berbagai cara seperti mencari tahu kepada temannya yang sarjana hingga meminta informasi ke Semarang mengenai izin SNI. Beberapa kenalannya mengaku tak tahu. Sementara sebagian lain menyarankan Kusrin membuat Perseroan Terbatas (PT) terlebih dahulu.

"Setelah ditangkap kemudian saya meminta penangguhan hukuman untuk mengurus perizinan. Dan ternyata tidak harus melalui PT, perseorangan pun bisa mengurus izin SNI," tutur Kusrin.

Seandainya, kata Kusrin, pemerintah daerah memberikan sosialisasi mengenai pengurusan SNI, tentu ia tak akan bernasib seperti sekarang. Ia kehilangan mata pencaharian karena dianggap melanggar undang-undang. Bila mendapat sosialisasi, Kusrin mengatakan ia pasti mengurusi SNI.




Kusrin mengaku perizinan SNI produk televisinya tengah diproses dan akan selesai pada bulan ini. Ia mengurusi beberapa dokumen seperti surat izin perdagangan dan tanda daftar industri.

"Tapi saya keburu digerebek," kenangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar menghancurkan ratusan unit televisi hasil rakitan Muhammad Kusrin bin Amri (41), warga Sukosari, Gondangrejo, Karanganyar, Senin lalu. (Baca: Alasan Tak Miliki Izin, Kejaksaan Hancurkan 161 TV Rakitan Pria Lulusan SD)

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karanganyar, Teguh Subroto menjelaskan, bentuk kejahatan dalam perkara Kusrin ini adalah merakit televisi secara mandiri. Menurut Teguh, hasil televisi rakitan rata-rata berukuran 14 dan 17 inchi itu kemudian dimasukkan ke dalam kardus yang dibeli dari pemulung. Kardus itu lantas dijadikan boks pembungkus televisi rakitan.

"Terdakwa divonis bersalah karena berani memproses dan memasarkannya tanpa dilengkapi izin terlebih dahulu dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Atas perbuatannya tersebut, pengadilan memvonis hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp 2,5 juta," pungkas Teguh. [Siyasa/Tarbiyah.net]








Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar