Gerhana matahari total (GMT) pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1983, 1984, 1988 dan 1995. GMT 1983 merupakan yang paling heboh karena melintasi pulau Jawa sedangkan pada tahun 1984, 1988 dan 1995 hanya bisa dilihat di sedikit daerah.

GMT pada 22 November 1984 hanya melintasi Papua dan ujung Selatan Pulau Halmahera. GMT pada 18 Maret 1988 melintasi Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. GMT pada 24 Oktober 1995 hanya bisa dilihat di pulau Sangihe.

Selain melintasi Pulau Jawa, GMT pada 11 Juni 1983 heboh karena sangat masif sosialisasi gerhana bisa membutakan mata. Hal itu bahkan disebarkan melalui spanduk-spanduk sehingga warga bertindak ekstrem sampai-sampai seluruh jendela rumah ditutup dan mata hewan-hewan di kebun binatang juga ditutup.

"Saat itu, ada anggapan seakan matahari memancarkan radiasi berbahaya," kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin seperti dikutip Lapan.

Menurutnya, hal itu merupakan pembodohan massal.

Lebih jauh, Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika Lapan itu menjelaskan, gerhana matahari total bukan peristiwa penuh marabahaya.

“Matahari sama seperti yang kita lihat kok. Yang membahayakan itu, kalau kita tidak berhati-hati melihatnya," terangnya.

Thomas menambahkan, yang berbahaya adalah ketika gerhana sebagian. Namun jika gerhana telah penuh mencapai puncaknya, hal itu tidak berbahaya.

Kepala Pussainsa Lapan Clara Yono Yatini menambahkan, gerhana matahari memang bisa mencederai mata. Sehingga masyarakat dianjurkan untuk melihat GMT dengan bantuan kacamata khusus. Tetapi ketika fase gerhana sudah benar-benar penuh alias puncak, aman untuk dilihat dengan mata telanjang. [Siyasa/Tarbiyah.net]







Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar