Suratmi terancam diusir dari desanya jika menyetujui otopsi atas jenazah suami, Siyono yang tewas setelah ditangkap Densus 88,.

Wanita berusia 29 tahun itu menyatakan siap meninggalkan kampung halamannya jika itu harga yang harus ditebus untuk mendapatkan keadilan atas tewasnya suaminya.

“Tidak apa. Saya ikhlas pergi dari sini. Tanah milik Allah luas. Kami siap hidup di mana pun,” kata Suratmi di di Kampung Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jateng, Rabu (30/3/2016).
.
Jawaban itu membuat Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjutak, tak kuasa membendung air mata.

“Saya trenyuh mendengar pernyataan Bu Suratmi. Nangis saya tadi. Haru saya tadi,” kata Dahnil kepada wartawan.






Dahnil juga terenyuh mengetahui Suratmi menyerahkan dua gepok uang ke PP Muhammadiyah. Uang yang diperkirakan ratusan juta itu untuk membungkam Suratmi agar tidak melakukan upaya hukum atas kematian suaminya.

“Ternyata wanita mempunyai karakter, bersikukuh, tidak goyah dengan uang. Materi bukan segala-galanya,” tambahnya seperti dikutip Republika.

Menurut Dahnil, hal itu merupakan 'PR' terberat yang harus dihadapi. Suratmi harus menyandang status janda dengan tanggungan lima anak yang masih kecil. Siapa yang harus tanggung-jawab membesarkan dan mendidik mereka, sementara negara tidak hadir dalam masalah ini.

Almarhum Siyono bukan warga maupun kader Muhammadiyah. Tapi, Muhammadiyah ingin hadir di dalamnya. Ingin melindungi, menuntut keadilan, memberi rasa aman, melakukan advokasi hingga tuntas. [Ibnu K/Tarbiyah.net]



Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar