Sepanjang semester pertama 2016, Kompas telah melakukan sedikitnya tiga ulah besar yang membuat umat Islam marah

3 ulah Kompas
Sepanjang semester pertama 2016, Kompas telah melakukan sedikitnya tiga ulah besar yang membuat umat Islam marah. Namun sebagai umat yang damai, kemarahan itu disalurkan melalui jalur yang prosedural. Di antaranya adalah protes tertulis dan mendatangi kantor Kompas seperti dilakukan FPI baru-baru ini.

Berikut ini 3 ulah Kompas pada Semester I 2016 yang membuat muslim marah:

Pertama, Kompas TV telah mempoles seorang pendukung LGBT menjadi sosok “ustadz” yang kemudian ditampilkan di Kompas TV sebagai nara sumber guna membela LGBT.

DPP Front Pembela Islam pun melayangkan protes secara terbuka kepada Kompas waktu itu.

“Beginilah cara licik media KompasTV memoles seorang pengidap homoseks menjadi mendadak ustad utk “promo” LGBT. Anda tahu siapa “Ustad” yang dipoles KompasTV utk “bela” LGBT tersebut? Foto ini punya jawabannya. Itu adalah foto yang diambil saat sang “Ustad” polesan KompasTV tersebut berdemo dengan pengidap LGBT lainnya di HI,” kata DPP FPI melalui akun Twitter @DPP_FPI.






Kedua, Kompas.com mengkampanyekan LGBT di antaranya dengan merilis artikel berjudul “LGBT sudah terbentuk sejak janin.”

Artikel dan pemberitaan seperti itu membuat FPI menyerukan agar umat Islam memboikot Kompas.

“Boikot media corong LGBT, #BoikotKOMPAS,” seru DPP FPI, Jum’at (12/2/2016).



Ketiga, kasus terbaru pemberitaan penertiban warteg Bu Saeni yang buka di siang hari.

Kompas TV menyiarkan penertiban warung yang buka siang hari Ramadhan di Serang, khususnya warteg Bu Saeni. Tayangan itulah yang kemudian dimanfaatkan untuk "melawan" Pemkot Serang dan menjadikan Bu Saeni sebagai tokoh yang terzalimi. Belakangan muncul hasil investigasi jika tangisan histeris Bu Saeni saat itu disetting oleh oknum media. (Baca: Bu Saeni Diminta Menangis Histeris oleh Oknum Media)

Selain itu, menurut FPI, setiap 2,5 jam sekali Kompas.com merilis berita tentang Bu Saeni dengan segala angel yang mengarah pada pembentukan opini bahwa penutupan warung pada siang hari Ramadhan tidak humanis. Pemberitaan itu ujung-ujungnya mengarah pada perlunya pencabutan Perda-Perda Syariah dengan alasan intoleran.

Khusus mengenai kasus ini, FPI telah mendatangi Kantor Kompas pada Kamis (16/6/2016) siang guna mengingatkan secara langsung. Video pertemuan itu pun telah diunggah di Youtube. [Ibnu K/Tarbiyah.net]




Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar