Kadang kita terjebak menilai seseorang dari penampilannya. Lalu kita meremehkannya.

berdoa
“Semoga Bapak dikaruniai Allah rezeki yang banyak dan barakah,” kata seorang pengemis setelah menerima selembar uang kertas.

“Aamiin,”yang didoakan menyahut singkat.

“Kalau doanya maqbul, kenapa nggak berdoa untuk dirinya sendiri saja. Agar tidak miskin dan meminta-minta,” kata seorang teman menimpali, beberapa saat setelah pengemis itu pergi.

***

Kadang kita terjebak menilai seseorang dari penampilannya. Lalu kita meremehkannya.

Gara-gara terlihat tampilannya kusut, kita pun menganggapnya hina. Gara-gara penampilannya kurang meyakinkan, kita pun menganggap doanya jauh dari pengabulan Tuhan. Gara-gara kita mendapati seseorang meminta, kita menilai doanya jauh dari ijabah-Nya. “Kalau doanya diijabahi, mestinya ia sudah tak miskin lagi,” demikian alasan kita.

Padahal, boleh jadi orang yang kita remehkan itu ternyata sangat dekat kepada Allah hingga doa-doanya dikabulkan. Bisa jadi orang yang kita anggap rendah, sesungguhnya ia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga doa-doanya adalah sebaik-baik senjata.






Pernah ketika melihat seorang pria parlente Rasulullah shallallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya tentang orang itu.

“Kalau dia meminang, pasti tak akan pernah ditolak”

Setelah itu datang orang kedua. Kembali Rasulullah bertanya penilaian sahabat tentangnya.

“Kalau dia meminang, pasti akan ditolak.”

Lalu Rasulullah menjelaskan. “Demi Allah, orang yang kedua ini lebih baik daripada yang pertama, dengan seberat bulatan penuh bumi,” demikian sabda beliau seperti tercantum dalam Shahih Bukhari.

Di kesempatan yang lain, Rasulullah pernah menasehati Abu Jurayy radhiyallahu ‘anhu.

لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا

“Janganlah engkau menghina seorang pun.”

Sejak saat itu, Abu Jurayy tidak pernah menghina dan meremehkan siapapun. Tidak juga menghina dan meremehkan binatang apa pun.

Di masa tabi’in, Muhammad bin Munkadir rahimahullah pernah bertemu dengan orang yang sempat ia remehkan. Saat itu, Madinah sedang dilanda paceklik. Shalat istisqa’ telah dilakukan namun belum juga turun hujan. Suatu malam, ketika berada di Masjid Nabawi, seorang pria berdoa sembari bersumpah, “Wahai Tuhanku, para penduduk kota NabiMu telah meminta hujan, namun Engkau tidak juga mencurahkannya. Kini aku bersumpah atas namaMu, turunkanlah hujan.”

“Orang gila,” kata Muhammad bin Munkadir dalam hati mengomentari pria tersebut. Namun, begitu pria itu selesai berdoa, terdengar suara petir kemudian hujan turun dengan derasnya. [Muchlisin BK/Tarbiyah.net]



Share To:
Magpress

Tarbiyah.net

Tarbiyah.net adalah media Islam yang menyajikan berita nusantara, mancanegara dan dunia Islam serta artikel islami. Memihak kebenaran, memperjuangkan keadilan dan menyebarkan fikrah Islam.

komentar