Recent Posts

5 Jasa Polri atas Suksesnya Aksi 212, Husnuzhan Mode On

12.03.2016
Di balik suksesnya Aksi Bela Islam III pada 2 Desember 2016 (Aksi 212), ada peran banyak pihak yang tak bisa diremehkan. Tidak terkecuali Polri. Meskipun beberapa langkah Polri dinilai kontroversi, ternyata dengan pendekatan baik sangka (husnuzhan), semuanya berjasa untuk mensukseskan Aksi 212.

Berikut ini 5 jasa Polri atas suksesnya Aksi 212:

Melarang Bus Mengangkut Peserta Aksi


Menurut banyak pihak, beberapa hari sebelum aksi ada larangan dari polisi kepada perusahaan oto bus agar tidak mengangkut peserta Aksi 212. Ketika membuat kesepakatan dengan GNPF-MUI, Senin (28/11/2016), Kapolri menegaskan bahwa tidak boleh ada larangan bagi perusahaan transportasi untuk mengangkut peserta Aksi 212.

Meskipun demikian, di lapangan masih banyak laporan bus-bus yang tidak mau mengangkut peserta. Yang mencuat adalah pengakuan PO Haryanto yang viral setelah diberitakan secara masif oleh media-media Islam. (Baca: Dilarang Angkut Peserta 212, PO Haryanto: Lebih Baik Gak Punya Apa-Apa daripada Jadi Musuh Tuhan)






Ada pula yang menjelang berangkat busnya dibatalkan secara mendadak. Misalnya 18 bus yang telah dibooking Daarut Tauhid, bus yang disewa Pemuda Muhammadiyah Gresi, dan lain-lain.

Sebagian orang menilai pelarangan ini adalah cara menghambat Aksi 212, padahal jika dicermati, pelarangan ini justru mengkristalisasi komitmen umat Islam untuk berangkat ke Jakarta. Sebab semakin umat Islam ditekan, mereka akan semakin militan.

Karena dilarang naik bus, ribuan santri Ciamis kemudian berjalan kaki. Efeknya luar biasa. Terjadi resonansi, semangat dan militansi Ciamis menular ke seluruh penjuru negeri. Muslim Bogor, Bandung dan Depok akhirnya juga melakukan aksi yang sama: jalan kaki ke Jakarta. Dan terjadilah gelombang semangat menghadiri Aksi 212.

Memindahkan Tempat Aksi ke Monas


Kapolri telah membuat kesepakatan dengan GNPF-MUI, Senin (28/11/2016). Di antara isinya adalah memindahkan aksi 212 dari Jalan Thamrin ke Monas. Sebagian orang menilai pemindahan tempat pusat acara ini sebagai “mempersulit” padahal ini merupakan “perluasan” tempat.

Dengan memusatkan acara di Monas, maka Thamrin dan Bundaran HI pun tetap bisa dipakai karena Monas yang hanya berkapasitas 800.000 ribu tidak akan muat menampung jutaan peserta Aksi 212.

Merazia Bus Peserta Aksi 212


Di sejumlah tempat, polisi menghentikan bus untuk melakukan pemeriksaan. Semacam razia. Sebagian orang merasa ini juga upaya untuk menghambat, memperlambat perjalanan menuju Jakarta. Sejumlah laporan masuk ke BedaMedia, pemeriksaan terjadi di Surabaya, Rembang, Semarang, dan Brebes. Bahkan yang dari Sumatera melalui lebih dari 10 pemeriksaan.

Jika direnungkan, sesungguhnya pemeriksaan itu bermanfaat. Apa manfaatnya? Dipastikan bus-bus yang menuju Jakarta aman. Tidak ada “penyusup” yang bisa membahayakan atau membawa senjata tajam. Kalaupun ada yang berniat menyusup, mendengar ada razia, mereka mungkin juga akan membatalkan rencananya.




Memeriksa tas peserta yang masuk Monas


Saya mengira masih pagi. Sekitar jam 5:30 WIB masuk Monas, sedangkan acara baru akan dimulai pada pukul 08.00 WIB. Ternyata dugaan saya salah, puluhan shaf terdepan sudah penuh. Padahal untuk masuk ke Monas, peserta diperiksa oleh aparat yang disiagakan di setiap pintu masuk.

Pemeriksaan sewaktu masuk Monas, menurut sebagian orang juga menghambat. Namun sebenarnya sangat baik. Memastikan semua orang yang masuk ke Monas tidak membawa apa pun yang membahayakan.

Mengamankan jalannya Aksi 212


Kalau ini, insya Allah semua sependapat bahwa acara yang melibatkan banyak massa harus didukung pengamanan kepolisian. Dan alhamdulillah polisi hadir dengan baik. Sedikitnya 40.000 personil dikerahkan, termasuk 499 pasukan Asmaul Husna yang memakai kopyah dan surban putih. Tak hanya menjaga, mereka juga melantunkan asmaul husna di sela-sela pra acara. [Muchlisin BK/Tarbiyah.net]