Recent Posts

Siapa yang Meracuni Minuman pada Aksi 212? Ini Analisanya

12.08.2016
Minuman beracun pada Aksi 212
Aksi 212 berlangsung dengan sukses. Aksi yang diikuti jutaan umat Islam itu berakhir dengan tertib dan damai, kebersihan dan keindahan taman pun terjaga. Tak heran jika banyak apresiasi untuk aksi tersebut, mulai dari dalam negeri hingga dari masyarakat internasional. Semua mata, khususnya dunia Islam, tertuju pada umat Islam Indonesia.

Di tengah banyaknya apresiasi untuk Aksi 212, sebenarnya ada penyusupan dengan memberikan minuman beracun. Namun ajaibnya, minuman beracun itu tidak berdampak serius bagi peserta Aksi 212. Hal itu disampaikan oleh Ketua GNPF-MUI Ustadz Bachtiar Nasir.

Meskipun ada yang menyusup memberikan racun, tapi Alhamdulillah tidak ada yang meninggal dunia. Energi kesuciannya seakan menetralisir tiga per empat daripada racun itu," ujar KH Bachtiar Nasir di Masjid Pondok Indah Jakarta dalam pengajian pasca 212, Selasa (6/12/16) lalu, seperti dikutip Tarbawia.






Lalu, siapa pelaku dan otak intelektualnya?

Siapapun orangnya, yang jelas mereka tidak ingin Aksi 212 sukses. Mereka ingin menghancurkan Aksi Bela Islam III dengan menciptakan kepanikan.

Bisa dibayangkan, seandainya minuman beracun itu berfungsi normal, lantas sejumlah orang yang meminumnya meninggal, maka:

Pertama, orang-orang di tempat itu akan gaduh. Mulai dari minta tolong, panik, hingga upaya evakuasi.

Kedua, orang-orang di sekitarnya yang penasaran melihat kegaduhan akan bergerak ke sana untuk melihat. Akan terjadi konsentrasi massa yang menarik perhatian media.

Ketiga, media berdatangan meliput jatuhnya korban keracunan, menyiarkannya dan segera memecah fokus Aksi 212. Bahkan bisa jadi, liputan jatuhnya korban akan mendominasi berita sehingga pesan Aksi 212 tidak tersampaikan.

Keempat, timbul kekhawatiran massal dari peserta Aksi 212 apakah makanan dan minuman yang mereka konsumsi aman atau juga mengandung racun seperti yang telah merenggut nyawa sejumlah korban.

Namun Allah Maha Penolong. Wa makaruu wamakarallah wallahu khairul maakirin. [Ibnu K/Tarbiyah.net]