Recent Posts

Hari Ini, Alumni 212 Gelar Aksi Bela Ulama

6.09.2017
Aksi 212 (Tarbiyah.net)
Aksi 212 (Tarbiyah.net)




Hari ini, Alumni Aksi Bela Islam 212 akan menggelar Aksi Bela Ulama. Karena digelar pada tanggal 9 Juni, Aksi ini juga disebut Aksi 96. Tujuannya, menyuarakan penolakan terhadap kriminalisasi ulama.

Menurut Presidium Alumni Aksi Bela Islam 212, aksi akan digelar di Masjid Istiqlal dan sekitarnya. Dimulai setelah shalat Jum’at hingga shalat tarawih berjamaah.

Aksi ini akan diisi dengan tabligh akbar, zikir dan doa untuk keselamatan para ulama dan aktifis Islam.






Peserta dihimbau membawa sajadah, tas kresek untuk memungut sampah, bekal untuk buka puasa dan jas hujan sebagai antisipasi jika turun hujan. Disebut-sebut, aksi ini akan menjadi shalat tarawih terbesar di Indonesia.

Namun, pihak kepolisian dikabarkan melarang aksi tersebut. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mochamad Iriawan mengatakan bahwa aksi tersebut sebaiknya tidak perlu dilakukan. Sebab, pihak Masjid Istiqlal pun tidak mengizinkan.

"Untuk apa lagi aksi, enggak usalah. Belum ada (pemberitahuan). Pihak Masjid Istiqlal terakhir menyampaikan juga tidak akan memberikan (izin) kegiatan ini. Untuk apa juga peristiwanya ada," kata Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (8/6/2017), seperti dikutip Sindonews. [Ibnu K/Tarbiyah.net]






1 komentar:

  1. MENGUBAH SALAH KAPRAH TENTANG PEWARIS PARA NABI!

    ULAMA BUKAN ‘PEWARIS PARA NABI’ TETAPI KHALIFAHLAH PEWARIS PARA NABI!


    Sebelumnya perlu dikaji kembali bahwa istilah jabatan yang dianugerahkan pada manusia itu adalah khalifah yakni Adam As. (QS. 2:30) jadi Adam As bukan nabi tapi kepala atau 'bapak' umat manusia dan kepala rumah tangganya Bani Adam.

    Setelah Bani Adam berkembang biak dengan berbagai suku bangsanya, maka dipilih pemimpin yang mampu menyampaikan pesan wahyu untuk menyampaikan peringatan dan kebenaran Allah yakni 'nabi'. Karena itu dalam Al Quran anda tdk akan temukan bahwa Adam As. ditunjuk sebagai 'nabi'. Jadi 'nabi' pertama kali ditunjuk adalah Idris As (QS. 19:56) dan baru ada jabatan baru yakni 'rasul' ini ada pada sejak era Nabi Nuh As. (a.l. QS. 26:107).

    Selama dan sejak era Nuh As. ada nabi yang diangkat sbg rasul dan ada hanya sebagai nabi saja. Kemudian karena perkembangan kemajuan peradaban umat manusia maka pera nabi dan rasul perlu ditingkatkan maka kembali dikenalkan istilah KHALIFAH yakni sejak era Nabi Daud As. sesuai dengan Firman Allah sbb.:

    Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu KHALIFAH (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (SQS. Shaad, 38:26)

    Sejak era Nabi Daud As maka ada para nabi/rasul itu yang dianugerahi sebagai khalifah dan terakhir adalah Nabi Muhammad SAW sehingga beliau mampu menjadi pemimpin dan penguasa di Madinah. Nabi Muhammad SAW tidak saja sebagai khalifah, nabi, Rasul Allah tetapi beliauada 'penutup para nabi' (baca bukan penutup para rasul) simak (QS. 33:40). Karena sudah ada tuntunan tsb. di atas maka menjelang wafatnya Nabi Muhammad SAW beliau sama sekali tidak meninggalkan WASIAT KEPEMIMPINAN PASCA WAFATNYA, ya dikembalikan kepada umat MUSLIM itu sendiri menentukan kepemimpinan umat selanjutnya.

    Dengan mengacu pada rambu-rambu wahyu di atas maka para sahabat menentukan konsep suksesi kepemimpinan dengan menggunakan istilah KHALIFAH KARENA TDK BOLEH LAGI MENGGUNAKAN ISTILAH nabi, rasul karena itu adalah kewenangan Allah SWT. Dengan uraian dan dasar Al Quran di atas maka Islam tidak mengenal peran ulama sebagai pewaris para nabi karena pewaris para nabi itu adalah KHALIFAH (QS. 6:165, 10:14 dan 73) dengan dasarnya yang kuat yakni QS. 38:26 tersebut.

    Dalam al-Qur’an kata ulama disebutkan pada dua tempat, yaitu: surat al-Syu‘ara’ ayat 197 dan surat Fathir ayat 28. Jadi ada anggapan selama ini bahwa 'ulama' adalah pewaris para nabi tidak mempunyai dasar yang kuat jika dibandingkan dengan peran 'khalifah' sesuai dengan uraioan di atas. Oleh karena itu tidak semua ULAMA adalah PEWARIS PARA NABI tetapi adalah ULAMA YANG MAMPU MENJADI DAN SEBAGAI KHALIFAH-lah yang disebut PEWARIS PARA NABI. Sang KHALIFAH itulah sebenarnya sebagai PEWARIS PARA NABI (QS. 38:26 dan 6:165).

    KHALIFAH adalah siapa saja sebagai MUSLIM lalu dianugerahi dirinya sebagai penguasa (a.l. QS. 6:165) dalam wilayah negeri atau daerah kewenangannya tertentu dan diakui oleh rakyat atau umatnya lalu mampu berlaku adil (QS. 38:26) dalam tugasnya sebagai pemimpin.

    BalasHapus