Recent Posts

Orang Arab Lecehkan Nama Ahmad dan Muhammad, Ini “Pembalasan” Muslim Indonesia

7.31.2017
Pria Arab
ilustrasi (Getty Images)




Tidak semua orang Arab melakukannya. Namun, tidak bisa dibilang hanya satu dua. Oknum-oknum itu biasa memanggil orang asing yang ‘derajatnya lebih rendah’ dengan panggilan “Ahmad” dan “Muhammad” disertai nada tinggi.

Hal itu membuat muslim Indonesia yang tinggal Arab Saudi geram. Hingga suatu hari, tibalah waktu itu. Berikut ini tulisan Azzam Mujahid Izzulhaq yang viral:

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Arab Saudi tahun 2010 lalu, sebetulnya ada beberapa hal yg kurang nyaman dan janggal. Salah satunya adalah penggunaan panggilan "Ahmad" atau "Muhammad" kepada orang lain atau orang asing yg 'derajatnya' dianggap lebih rendah.

Di hotel, seorang supervisor yg Saudi acapkali memanggil petugas Room Service anak buahnya, yg kebetulan non-Saudi dengan panggilan Ahmad atau Muhammad dengan intonasi yg membentak. Di restoran-restoran juga demikian. Orang-orang Saudi acapkali memanggil pelayan reatoran dengan panggilan Ahmad atau Muhammad, pun juga dengan intonasi yg kurang nyaman terdengar. Membentak dan lainnya.

Bukan hanya di dua sektor tadi. Penggunaan panggilan yg (bagi saya) tidak sopan ini, merebak di segala sektor.

Kenapa tidak menggunakan kata Akhi, Shadiqi, atau apalah sapaan dan oanggilan lain selain menggunakan nama Baginda Sayyidina Rasulullah Muhammad saw? Pertanyaan ini yg kadang seperti bom waktu yg ingin sekali diledakkan di depan orang-orang Saudi. Padahal, sebagian dari pemuja Saudi di Indonesia bahkan meributkan apabila menulis saya shallallahu 'alaihi wasallam dengan singkatan saw. Tak menghormati Baginda Rasul katanya. Ya salaam...

Satu waktu, terjadilah itu. Ketika itu saya mengajak rekan saya makan di salah restoran makanan khas Timur Tengah. Di sebelah saya, ada 4 orang Saudi yg hampir bersamaan datangnya.






Mereka kemudian memanggil pelayan restoran duluan untuk memesan makanan. "Ya Muhammad! Ta'al! Wahai Muhammad, sini!", kata salah seorang di antara mereka dengan intonasi yg keras. Pelayan yg dari wajahnya diketahui adalah orang Bangladesh, menghampiri dengan mimik datar. Mungkin dalam benaknya sudah biasa dia dibentak-bentak.

Mereka memesan 2 porsi makanan yg 1 porsinya cukup untuk makan 2 orang Saudi atau 4 orang Indonesia seperti saya.

"Nah, saatnya meledakkan bom waktu", gumam saya.

Saya pun kemudian memanggil pelayan. Saya tidak menggunakan panggilan biasa, apalagi panggilan seperti orang-orang Saudi.

"Ya Abdalaziz! Ta'al!" Hai Abdul Aziz, sini!", teriak saya. Sontak si pelayan kaget tapi raut mukanya tersenyum sambil menghampiri saya dan rekan saya.

Ternyata 4 orang Saudi di samping saya tadi berdiri juga menghampiri. Mereka lebih dahulu membombardir saya dengan pertanyaan dan pernyataan ketidaksukaan.

"Kenapa kamu panggil dia (pelayan ini) dengan panggilan Abdulaziz? Abdulaziz adalah kakek kami yg melahirkan kerajaan yg diberkahi Allah ini! Kamu kurang ajar orang Indonesia!", hardik dia sambil menggerakkan tangan khas orang Saudi jika berbicara.

Saya menjawab mereka, "Lalu kenapa kamu memanggil dia (pelayan ini) dengan panggilan Muhammad? Muhammad adalah Nabi dan Rasul yg mulia. Ia bukan hanya mengajarkan orang Arab tentang indahnya ber-Islam dengan keagungan akhlaknya pada sesama! Melainka ia mengajarkan dan mendakwahkan Islam bagi seluruh umat manusia. Sehingga kami yg jauh dari kota lahirnya Rasulullah yg diberkahi ini bisa keluar dari zaman kegelapan menuju cahaya Islam! Lebih kurang ajar siapa?"

Mereka masih misuh-misuh tapi intonasinya sudah mulai datar. Saya tidak memperdulikan, saya memesan makan saja kepada pelayan ini. Dia tersenyum lebar.

Selesai makan, kami (saya dan rekan serta 4 orang Saudi tadi) hampir bersamaan keluar dari restoran. Mereka masih misuh-misuh. Sayup terdengar salah seorang mereka berkata, "Sudahlah mereka orang miskin yg mencari hidup di Saudi."

Saya tidak melayaninya, saya tekan remote kunci mobil saja. Saya dan rekan saya naik. Saya buka kaca jendelanya sambil memasang kaca mata hitam. Saya lambaikan tangan kepada mereka sambil berkata, "Assalamu'alaikum. Semoga Allah memberikan rezeki padamu untuk membeli mobil baru".

Dari kaca spion saya melihat mereka terpana.

***
Mungkin mereka baru tahu ada orang asing sombong yg berani menyombongi mereka di sana.

Mungkin juga, seperti biasanya, jika saya menceritakan tentang Arab Saudi dari sisi lainnya, ada yg menyimpulkan bahwa saya adalah pembenci Saudi. Padahal, ah sudahlah. Saya sudah tahu kadar 'kelelakian' mereka.

*Mobil yg saya naiki Chevrolet Suburban pabrikan General Motors versi terbaru saat itu. Sementara mobil mereka sedan buatan Jepang dengan produksi tahun 7 tahun ke belakang.

#AMI
#SelamatkanDuniaIslam
#LintasanPikiran






17 komentar:

  1. Mantap mas ceritanya hehe.. keren.

    BalasHapus
  2. Mantap mas ceritanya hehe.. keren.

    BalasHapus
  3. He..he...ini salah faham. Seluruh laki2 Bangladesh namanya selalu dimulai dg Muhammad atau Ahmad. Saya juga baru tahu ketika ngobrol sama seorang dokter asal Bangladesh saat haji th 2004 yg lalu. Jadi kalo orang Saudi memanggil orang Bangladesh ...dg Ahmad atau Muhammad ...ya wajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha udahlah penjilat saudi selalu bela saudi, segalanya saudi terbaik di dunia dan akhirat yang lain bidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh

      Hapus
  4. Ngajinya (orang Saudi tadi) kurang kayaknya, hadeh

    BalasHapus
  5. Islam memang turun di tanah Arab, tapi bukan karena kebaikan orang orang arab. karena kejahiliyahan penghuni tanah arab waktu itu. So, Islam adalah Islam, bukan identik dengan arab. be smart... wallahu alam bissawab...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allah telah memilih bangsa Arab untuk menerima islam pertama kali sama seperti bangsa Israel dipilih pada zaman dahulu untuk menerima risalah kenabian. so biasa aja. klo ada yang salah dari mereka ya diluruskan. Merekalah perantara islam cepat menyebar ke seluruh dunia. Bukan bangsa Melayu ato Jawa, yang lamban dalam penyebaran ide dan gagasan. Ide Islam Nusantara saja hanya wacana yang tak kan bisa menyebar secara masif..

      Hapus
  6. Adminya gagal paham ni kayaknya, emang sdh berapa lama ya tinggal disaudi sampai bisa menyimpulkan begitu, setau saya kalau orang saudi memenggil orang yang belum dikenal dg nama ahmad atau muhammad itu justru untuk menghormati kok bisa kebalik giniya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha sampeyan bilang "setau saya" itu sampeyan juga udah tinggal berapa lama di arab? Sampeyan bisa liat di fb saudara Azzam Mujahid Izzulhaq. Anda bisa tanya sendiri kepada beliau. Itu adalah kebiasaan bangsa arab. Nama muhammad bagi mereka sama seperti paijo di tanah jawa ini.

      Hapus
    2. Admin pekaes corongnya Mesir IM... wajar sj komennya nyeleneh..

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. Saya tau karena saya pernah lama tinggal disaudi, miris banget media islam kok begitu ( pembohongan publik)

      Hapus
  7. Dongengannya cantik banget.

    Taste of majos.

    Dongeng dengan citarasa iran majusi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha penjilat saudi selalu fitnah syiah kalau tidak sesuai otak pemikirannya, aneh kok masalah politik di bawa2 ke agama, hahaha mikir dong dari dulu saudi sama iran tuh konflik maslah politik bukan agama

      Hapus
  8. Argumen yang hebat terhadap warga Saudi terbelakang tersebut...

    BalasHapus
  9. Ingat min....
    Anda telah membohongi jutaan umat berat tanggung jawabnya diakhirat kelak (hanya mengingatkan sesama muslim)

    BalasHapus
  10. masih perlu tabayyun dalam hal kisah ini, tak bisa asbun dan menjudge bahwa cerita ini benar

    BalasHapus