Recent Posts

Belajar Cinta dari Fahri dan Aisha | Memaknai Film Ayat-Ayat Cinta 2

12.22.2017
Film Ayat Ayat Cinta 2




Film Ayat-Ayat Cinta 2 mulai dirilis di bioskop sejak 21 Desember 2017. Anda mau menonton atau belum sempat menontonnya? Jangan khawatir. Ini sinopsis dan pelajaran penuh makna yang memudahkan melihat alur cerita dan ibrahnya. Sebagaimana telah dirilis oleh Ummi Liha

Sinopsis Film Ayat-Ayat Cinta 2 ini juga telah beredar di sejumlah grup WA:

BELAJAR CINTA DARI FAHRI DAN AISHA

Film Ayat-Ayat Cinta 2

"Hal yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri dan hal yang paling layak dibenci adalah kebencian itu sendiri" (Fahri, mengutip Syaikh Said Nursi)

Film Ayat-Ayat Cinta 2 dibuka dengan adegan menegangkan. Zionis Israel membombardir Gaza dari udara. Gedung-gedung luluh lantak. Tak peduli apakah ia rumah sakit, sekolah atau tempat ibadah. Warga sipil, wanita dan anak-anak berlarian menyelamatkan diri.

Aisha, istri Fahri, yang tengah menjadi relawan pendidikan anak-anak korban perang Gaza terjatuh saat sebuah rudal meledak tak jauh darinya. Sebelum terjatuh, ia sempat menelepon Fahri. Namun terputus sebelum pesan utama tersampaikan.

Sejak saat itu, Fahri kehilangan kontak dengan Aisha. Ia mencarinya sekian lama. Hasilnya nihil.

Menjalani kehidupan tanpa Aisha, Fahri menjadi dosen di Inggris sembari menjalankan beragam bisnisnya. Kelas pertama yang diisi Profesor Fahri membuatnya langsung dikagumi. Semula sejumlah mahasiswi kagum dengan wajahnya yang rupawan. Namun kepintaran dan karakter Fahri jauh lebih mengagumkan.

Dalam waktu singkat, Fahri menjadi dosen favorit. Bahkan seorang mahasiswi membuatkan makanan untuknya.

Dengan tetangga, Fahri juga baiknya luar biasa. Keira, gadis yang tinggal di depan rumahnya begitu membenci Fahri. Namun, ia tetap bersikap baik padanya. Memberi tumpangan dan selalu menolong Keira.

Brenda, tetangga yang berprofesi sebagai pengacara juga tak luput dari kebaikan Fahri. Meskipun suka mabuk, ia tetap ditolongnya. Misalnya dengan memakaikan selimut dan bantal agar tidak mati kedinginan saat tertidur di halaman.

Jason, adik Keira, juga sangat benci dengan Fahri. Berkali-kali ia mencoret mobil Fahri dengan cat semprot. “Monster,” demikian coretannya. Lain waktu ia coret “Devil.”

Momentum perubahan Jason terjadi setelah ia tertangkap saat mencuri di minimarket yang ternyata milik Fahri. Manajer minimarket ingin membawa Jason ke kantor polisi, namun Fahri tidak menyetujuinya. Ia justru mengajak Jason menikmati milkshake terbaik di kota itu.

“Kenapa kau mengajakku ke sini? Laporkan saja aku ke polisi. Aku tidak takut!” Jason masih menyikapinya dengan ketus.

“Aku tahu kau tidak takut. Tapi bagaimana dengan ibu dan kakakmu, melihat kau dipenjara hanya karena mencuri snack?”

Sambil menangis, Jason menceritakan bahwa ia benci Fahri karena muslim. Muslim, dalam pandangan Jason adalah teroris. Ayahnya tewas ketika membeli oleh-oleh saat sebuah bom meledak di London. Pelakunya pengeboman, menurut berita adalah muslim. Itu yang membuat Jason sangat benci muslim.

Sepeninggal ayahnya, ibunya tidak bisa membiayai Jason dan Keira. Jason berhenti dari sekolah bola dan Keira berhenti dari kursus biola.

Sejak itu, Jason sering ke rumah Fahri untuk curhat. Namun, Keira justru merasa Fahri sok pahlawan.

“Keira dalam bahaya!” kata Jason meminta tolong pada Fahri. Kakak perempuannya itu berniat menjajakan diri.





Fahri, yang selama ini disakiti Keira dengan kata-kata, kembali menolongnya. Tanpa sepengetahuan Keira, ia membebaskannya dengan terlebih dulu memberinya pelajaran agar tidak coba-coba menjual kehormatan. Tanpa sepengetahuan Keira, Fahri juga mendatangkan guru biola terbaik untuknya.

Fahri juga suka menolong Nenek Katrina. Bahkan saat penganut Yahudi itu mau ke sinagog, Fahri mengantarkannya. Di sinagog, saat Fahri menolong Nenek Katrina yang terjatuh, pemuda Yahudi mengusirnya karena tahu ia muslim.

Pertolongan Fahri paling luar biasa pada Nenek Katrina adalah saat wanita tua itu diusir oleh anak tirinya yang mantan tentara Israel. Ia diusir karena rumah itu telah dijual oleh sang anak tiri. Fahri kemudian membeli rumah itu dan diberikannya kembali kepada Nenek Katrina.

Kebaikan demi kebaikan Fahri berbuah. Seluruh tetangga menjadi mencintai Fahri. Pandangan mereka terhadap muslim berubah 180 derajat.

Salah satu buah kebaikan itu bisa disaksikan saat debat ilmiah; Fahri vs Profesor Yahudi. Argumentasi Fahri yang menolak Clash of Civilization Samuel Huntington tak terbantahkan. Satu-satunya cara menjatuhkan Fahri adalah menuduhnya teroris dan antisemit.

“Fahri tidak antisemit. Aku Yahudi, namun Fahri selalu menolongku. Dia memberikan kebaikan demi kebaikan yang seharusnya dilakukan oleh anakku. Demi Musa dan Tuhannya Musa, Fahri adalah orang baik. Dia adalah malaikatku,” kata Nenek Katrina disambut standing applause seluruh peserta debat termasuk profesor-profesor Yahudi.

Fahri juga baik kepada siapa pun, meskipun tidak kenal. Saat pulang dari masjid, ia melihat beberapa pria berjubah menghardik wanita bercadar. “Ia pengemis. Tidak mau berusaha,” dalih mereka.

“Aku bukan pengemis. Aku berdagang tapi daganganku dicuri,” penjelasan wanita itu semakin membuat Fahri kasihan. Diajaknya ia ke rumah. Sabina, demikian ia mengenalkan nama.

Hulya, sepupu Aisha, semakin mengagumi Fahri. Kebaikan-kebaikannya di kampus, kepada tetangga, kepada Sabina, semuanya ia kagumi. Dan dari kekaguman itu, ia tak bisa menunjukkan cintanya.

Ketika ayah Sabina datang ke Inggris, ia langsung meminta Fahri menikahi Hulya. Namun, Fahri menolak. Ia masih menunggu Aisha.

Fahri kemudian mau menikahi Hulya setelah Misbah, sahabatnya, memberi nasihat. Pernikahan Fahri dan Hulya disambut gembira semua orang, kecuali Nenek Katrina yang telah mengetahui bahwa Sabina adalah Aisha.

Aisha sendiri tak bisa menahan air matanya di hari pernikahan Fahri dan Hulya.

“Mengapa engkau melakukan ini semua? Mengapa engkau berbohong pada Fahri?” tanya Nenek Katrina ketika tahu Sabina adalah Aisha.

“Aku tidak mau menambah beban hidup Fahri, aku bukan Aisha yang dulu,” kata Sabina yang separuh wajahnya hancur. “Aku bahagia melihat Fahri bahagia. Nenek tolong rahasiakan ini.”

Identitas Aisha terbongkar saat Hulya hamil tua. Sewaktu mengisi bahan bakar di SPBU, Hulya dan Sabina ke toilet. Sabina sangat terkejut saat berpapasan dengan seorang penjahat dari Mesir.

“Bahadur!” teriak Sabina. “Hulya, lari! Katakan pada Fahri, Bahadur ada di sini.”

“Kamu Aisha ya? Kamu Aisha?” kata Bahadur.

“Tidak”

Bahadur mengejar Sabina. Cadar Sabina terlepas. Hulya pun mengenali wajahnya. Saat Bahadur akan menikamnya, Hulya menghadang.

Fahri datang, namun terlambat. Pisau Bahadur telah mengenai dada Hulya. Ketika Bahadur hendak melanjutkan menikam Fahri, sebuah peluru aparat merobohkannya.

“Aisha... Aisha...,” kata Hulya saat menuju ruang operasi sambil memandangi Sabina.

“Kamu Aisha?” Fahri menangis. “Bagaimana mungkin aku tidak bisa mengenali istriku sendiri.”

Tak bisa dipungkiri, film ini sangat bagus. Mulai dari sinematografi hingga jalan ceritanya. Tidak mudah meringkas novel setebal itu menjadi film berdurasi singkat.

Yang paling utama, dakwah Islam-nya cukup kental. Menunjukkan bagaimana identitas muslim yang penuh kebaikan dan cinta kepada sesama. Film ini juga tepat diputar di saat sekarang, ketika umat Islam sedang mendukung Palestina dan menolak Yerusalem diklaim menjadi ibukota Zionis Israel.

Dalam film ini tergambarkan kebiadaban Zionis Israel yang tidak hanya membombardir Gaza, namun juga merenggut kehormatan para muslimahnya. Tak banyak muslimah yang bisa memilih menderita seperti Aisha demi mempertahankan kehormatannya.[]



Mau mendownload film ini secara gratis, baca dulu Download Film Ayat-Ayat Cinta 2






Tidak ada komentar:

Posting Komentar