Recent Posts

Beredar Foto Baliho Tsamara Amany Berkerudung, Ini Tanggapan Netizen dan Ulama

1.17.2018
Tsamara Amany




Tahun 2018 merupakan tahun politik. Semakin dekatnya pemilu membuat partai politik dan caleg mulai gencar sosialisasi.

Salah satu yang mengudang perhatian, beredar foto spanduk dan baliho caleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany berkerudung.

Banyak yang mempertanyakan foto tersebut. Pasalnya, selama ini Tsamara Amany dikenal tidak memakai kerudung. Banyak juga yang justru mencurigai upaya merebut simpati umat Islam tersebut.

“Harus hati hati dengan caleg yg mendadak islami..., drpd kita tertipu.., mending kita tenggelamkan aja ...!!!” kata Ardi Suprapto.

“Hadeeeh ... Lagi2 Untuk pencitraan... ingat saudara saudara jangan salah pilih pemimpin...” kata Bunda Faqih.
Spanduk Tsamara Amany

“Kata UAS, umat Islam jgn bodoh politik, jgn lg dibodohi mereka2 wajah numpang Islami tp tangan mereka menggunting dlm lipatan” kata Fauzan Gafur.





“Kemaren2 menghina islam..nyari suara...berkedok ..islam...katanya gak butuh suara orang islam...koq pada ngedadak tampil..gaya orang islam...pemilu..rupanya..” kata Ipeh Nurlatipah.

“Kalau pakai kerudung hanya utk meraih simpati saja, jangan terlalu berharap banyak, kasihan nt bsa menyesal dunia akhirat” kata Edy Sudrajat.

“Mau ikut jurus keong racun dia,pencitraan,” kata Joko Susilo

Tak hanya netizen biasa, ulama pun mengingatkan agar berhati-hati jika ada orang yang tiba-tiba tampil religius mendekati Pemilu. Hal itu disampaikan oleh Pemimpin Majelis Rasulullah Habib Nabil Al Musawwa.



“Pilkada & Pileg: Hati-hati dengan orang-orang yang saat Pilkada & Pileg nanti tiba-tiba religius.. Agama itu gak bisa dijual, ia harus dihayati dan diperjuangkan.. Bukan topeng & make up yang bisa disesuaikan dengan jenis pesta.. Ummat harus cerdas, jangan tertipu dengan para munafik bertopeng agamis.. Cerdaslah!” tandasnya melalui akun Twitter @nabiel_almusawa, Kamis (11/1/2018) lalu. [Ibnu K/Tarbiyah]







1 komentar:

  1. Afwan jiddan
    Memang dewasa-dewasa ini, banyak sodara-sodara kita yang menggunakan parameter "malaikat" untuk menilai orang lain dan mangharapkan penilaian terhadap diri kita dengan parameter layaknya manusia biasa. Alangkah baiknya jika kita mengajak sodara seiman kearah pemikiran netral, kasian sodara kita yang belum banyak memiliki bahan pertimbangan, termasuk saya (termasuk orang apatis). Biarkan kami berfikir dari kepala kami sendiri tanpa berpihak.

    Saya menghawatirkan kalimat penyemangat pemersatu bangsa terkandung makna "diskriminatif", menyalahkan kalimat pemersatu lainnya. Andai ada yang dapat jadi penengah di antar "kalimat-kalimat persatu"

    Syukran katsir, jazakumullahu khairan kasira

    BalasHapus