Recent Posts

5 Keanehan yang Ditemukan Muhammadiyah Saat ke Xinjiang

18 Des 2019
keanehan yang ditemukan muhammadiyah di xinjiang
Konferensi Muhammadiyah soal kunjungan ke Xinjiang (Detik)

Ketua Hubungan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah, Muhyiddin Junaidi mengungkapkan 5 keanehan yang ditemukannya saat kunjungan delegasi ormas Islam ke Xinjiang, China.






1. Direction of Kiblat tampak baru


Saat masuk hotel, ia melihat tanda direction of kiblat tampak seperti baru dipasang. Berbeda dengan hotel pada umumnya.

"Mulai saat itu kami mencurigai, masuk kami ke hotel, memang sudah ada direction of kiblat di tiap kamarnya tapi nampak jelas yang asli dan yang baru dibikin itu berbeda. Yang seperti Anda temukan di Indonesia dan beberapa negara Islam biasanya arah kiblat itu sudah tetap definitif jelas. Kami mulai curiga," kata Mahyiddin.

2. Wartawan mau keluar dihadang


Ketika seorang wartawan yang menyertai delegasi mau keluar hotel untuk membeli rokok, ia dihadang.

"Ketika seorang wartawan yang ikut kami ingin membeli rokok ternyata di depan dihadang, where are you going, 'mau beli rokok, akhirnya'. 'Oke saya (petugas yang hadang) mau beli, apalagi mau beli? Minum mau? Beli satu lagi untuk membakar rokoknya', itu saya berikan airnya dikasih, kemudian rokoknya dikasih, kemudian alat pembakar rokoknya dikasih."






3. Tidak ada kebebasan beragama


Setelah mengunjungi banyak tempat, Junaidi tidak menemukan kebebasan beragama.

"Kunjungan ke beberapa tempat, masjid, institut agam Islam memang meyakinkan kami bahwa tidak ada kebebasan beragama, Freedom of religion itu agak susah kita buktikan. Mengapa? Karena Konstitusi China Bab 2 artikel 38 mengatakan dengan jelas bahwa pemerintah memberikan kebebasan warga untuk beragama dan tidak beragama."

4. Menjalankan agama di ruang publik dicap radikal


Junaidi menyebut konstitusi di China tidak mengizinkan warganya untuk melaksanakan kegiatan keagamaan di ruangan terbuka. Muslimah yang berjilbab saat keluar rumah dicap radikal dan harus mengikuti kamp deradikalisasi yang disebut re-education center.

“Kalau Anda shalat itu dianggap radikal apabila itu di ruangan terbuka kalau Anda bekerja di sebuah kantor di sana hari Jumat Anda ingin shalat maka itu dianggap radikal.”

Baca juga: Mesut Ozil Sindir Indonesia yang Mayoritas Muslim dan Wapresnya Ulama

5. Mengajarkan agama ke anak dicap radikal


Junaidi juga menceritakan, seorang ibu dianggap radikal karena mengajarkan anaknya pemahaman agama.

“Beragama setelah 18 tahun baru boleh, kalau ada ibu yang mengajarkan anaknya agama di rumah dianggap radikal." [Ibnu K/Tarbiyah]








Tidak ada komentar:

Posting Komentar